Memahami Alkitab sangat penting sebagai orang Kristen
Seringkali walaupun kita disebut sebagai orang percaya, pikiran kita lebih banyak dikuasai pikiran-pikiran dunia yang biasanya akan terlihat jelas pada waktu kita mengambil keputusan atau suatu tindakan karena kita kurang menguasai atau kurang betul-betul memahami Firman Tuhan.
Memahami Alkitab dapat dengan bentuk pembahasan kitab per kitab supaya kita mendapatkan kerangka acuan yang jelas sehingga ketika membaca bagian detailnya kita akan lebih mudah memahaminya.
Hendaklah perkataan Kristus diamdengan segala kekayaannya dia antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seseorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu. (Kolose 3:16)
Belajar Firman Tuhan adalah suatu keharusan karena perkataan Kristus yang adalah Firman itu memilki peran penting sebagai dasar dari iman yang timbul dari pendengaran. Namun tidak hanya mendengar tetapi juga menghidupinya serta menerapkan dalam kehidupan sehari-hari, itulah Firman yang nyata dalam hidup kita.
Permasalahannya, Firman tidak secara alami atau otomatis tinggal dalam hati kita. Kita harus menyediakan ruang dan membiarkannya masuk untuk memenuhi hati kita, sehingga memperkaya kita dengan nasihat, perintah, larangan serta petunjuk dari Allah.
Maka dari itu kita harus tekun mempelajari Firman Tuhan karena Firman adalah pesan yang diilhamkan, “God-breathed” (dinafaskan, dihembuskan), oleh Allah sendiri yang akan menuntun manusia kepada kebenaran sejati.
Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat unutk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik. (2 Timotius 3:16-17)

Firman-Mu itu pelita dan terang bagi jalanku. (Mazmur 119:105)
Seperti sebuah senter, ia tidak berfungsi untuk menerangi diri kita tetapi menerangi jalan yang ada di depan sehingga kita dapat berjalan dengan baik. Sepeti itulah Firman Allah yang menuntun setiap langkah kita agar selalu berjalan bersama Tuhan.
Metode untuk memahami alkitab ada banyak, ada yang dengan metode devotional (renungan), menghafal ayat dan sebagainya. Namun yang terpenting, membaca Alkitab harus dalam konteks sehingga kita dapat memahami isi dari setiap kitab.

1. Survei (Telescopic View)
Melakukan observasi dalam mendapatkan gambaran besar secara menyeluruh satu kitab dengan membaca secara keseluruhan dan berulang, memberikan penanda pada bagian yang penting dan mulai memetakan pemisahan bagian demi bagian yang sesuai.
2. Analisis
Mempelajari setiap bagian yang ada dalam satu kitab secara seksama, cermat dan rinci yang mencakup meringkas dan menganalisis ayat demi ayat dalam tiap pasal.
3. Sintesis (Put the book back together)
Menyatukan kembali dan melihat secara keseluruhan dengan tujuan penarikan kesimpulan, melihat keseluruhan detail dalam sudut pandang yang tepat. Apa yang diperoleh dari pembelajaran kitab tersebut? Apa yang dapat dijadikan acuan dalam menjalani kehidupan (aplikatif)?
Setelah mempelajari metodenya, untuk menerapkannya mulailah dengan kitab-kitab yang tidak terlalu banyak pasal seperti Surat Efesus. Namun sebelum mencoba untuk membuat kerangka besarnya, pelajari terlebih dahulu background atau latar belakang dari surat tersebut.
Surat Paulus untuk Jemaat Efesus
Salah satu dari Surat Penjara yang ditulis oleh Rasul Paulus sekitar tahun 60-61 Masehi saat berada di penjara Roma dan karena banyak kemiripannya, sering disebut suart kembar dengan surat Kolose. Surat ini bersifat formal dan umum, ditujukan bagi jemaat Kristen di Efesus serta gereja-gereja di sekitarnya.

Efesus terletak di pantai barat daya Asia kecil (Turki Modern) yang menjadikannya 1 dari 3 kota pemimpin perdagangan internasional karena lokasinya yang strategis. Kota ini adalah kota terbesar keempat di kekaisaran Romawi dengan perkiraan populasi sekitar 300.000 penduduk.
Salah satu situs yang terkenal dari kota ini adalah kuil Artemis, karena Efesus adalah pusat agama yang didominasi oleh pemuja dewi Diana. Namun melalui pelayanan Rasul Paulus, banyak orang yang akhirnya menjadi percaya kepada Kristus dan kebanyakan dari mereka adalah non-Yahudi. Karena itulah dalam surat Efesus, Rasul Paulus membahas mengenai panggilan orang bukan Yahudi.
Rasul Paulus mengunjungi Efesus 2 kali, yang pertama adalah pada akhir perjalanan misinya yang kedua (Kis 18:19-21).

Dan kembali tinggal di Efesus selama hampir 3 tahun pada perjalanan misinya yang ketiga (Kis 19; 20:31).

Setelah pelayanan Paulus, kota Efesus menjadi pusat penjangkauan penginjilan ke seluruh provinsi Asia (Kis 19:18-20).
Tidak seperti surat Paulus yang lain, Efesus tidak membahas kontroversi dan masalah spesifk di gereja tertentu melainkan untuk memperluas wawasan pembacanya dalam memahami tujuan dan kasih karunia Allah yang kekal.
Adapun tujuan dari penulisan surat ini adalah agar jemaat Efesus:
- Menyadari posisi mereka dalam Kristus, yaitu sebagai anggota tubuh Kristus (3:6)
- Mengingat dasar untuk hidup dan bertindak dalam pertumbuhan rohani sebagai orang percaya (4:13-16)
- Memperkuat kesatuan dalam hubungan antar jemaat (pasal 2 dan 4)


